Tampilkan postingan dengan label Bimbingan Konseling. Tampilkan semua postingan

Contoh Laporan Konseling

0 komentar


LAPORAN KONSELING INDIVIDU  

Disusun Guna Memenuhi Tugas Ulangan Tengah Semester Mata Kuliah: Bimbingan Konseling Dosen Pengampu: Dr. Sulthon    

NAMA  : AGUS MANSHURUDIN 
NIM  : 1510120062 
SEMESTER  : V   
KELAS  : B LK PAI STAIN    

A. IDENTITAS KONSELI 
Nama   : Dina Husnia Umur   : 14 Tahun 
Jenis Kelamin  : Perempuan
 Alamat  : Desa Lau RT 8 RW 01 Dawe Kudus
 Sekolah : MTs NU Al Munawwaroh  

B. DESKRIPSI MASALAH Konseli merupakan siswa MTs NU Al Munawwaroh kelas IX. Pada awalnya ia merupakan siswi yang rajin, berprestasi dan yang aktif dalam organisasi intra sekolah (OSIS), bahkan pada kelas VIII ia pernah menjabat sebagai ketua OSIS. Namun semenjak masuk kelas IX ia merasa sangat tidak nyaman karna berkumpul dengan teman sekelas (acak) yang sering mem-bully dan menghinanya. Hal tersebut karena teman-temannya mengetahui bahwa konseli mempunyai larat belakang keluarga yang buruk. Akibat hal tersebut, hari-hari konseli di kelas menjadi sangat tidak nyaman, bahkan sering sekali ia minta pindah lain untuk mencari teman lain yang membuatnya nyaman. Tidak hanya itu dalam proses belajar, mental dan ketekunannya terganggu, ia sering menangis dan murung sehingga prestasi pada UTS semester ini sangat menurun drastis.   
C. LATAR BELAKANG  Latar belakang konseli dalam keluarga adalah sebagai berikut:  1. Ayah meninggal sejak ia kecil. 2. Dimasa anak-anak ia tinggal bersama Ibunya. 3. Setelah menginjak sekolah MTs Ibu meninggalkannya bekerja ke luar kota, hingga kini tidak diketahui kabarnya. 4. Sekarang konseli tinggal bersama kakeknya.  
D. SIFAT/ KEPRIBADIANNYA Sebenarnya konseli merupakan anak yang mempunyai pribadi yang semangat dan pekerja keras (karna sejak kecil hidup mandiri dengan ibunya). Tidak jarang ia mengorbankan dirinya untuk kepentingan OSIS dan teman- temannya. 
Disisi lain, ia merupakan anak yang sangat sensitif perasaannya. Ia mudah marah dan tersinggung. Ketika dibully ia langsung merasa jatuh, malu dan patah semangat.  
E. ANALISIS MASALAH Dari hasil wawancara antara konselor dengan klien, maka ditemukan permasalahan sebagai berikut: Konseli mempunyai permasalahan kurang percaya diri atas keadaannya, tidak bisa mengontrol emosi, mempunyai persepsi buruk atas latar belakangnya dan butuh seorang dipercaya sebagai tempat kembali saat ia terkena masalah.   
F. TEORI KONSELING YANG DITERAPKAN Setelah menganalisa permasalahan dapat ditemukan bahwa permasalahan konseli merupakan kategori konseling REBT (Rasional Emotif Behaviour Therapy). Teori ini digagas oleh Ellis yang mengatakan bahwa, banyak anak yang tidak mencapai kemajuan karena dia tidak memiliki pemahaman yang tepat dalam hubungannya dengan peristiwa-peristiwa yang dialami. Dalam istilah lain dikatakan; “What disturbs people’s minds is not events but their judgments on events” (manusia itu diganggu bukan oleh “sesuatu”, tetapi pandangannya yang ida dapatkan dari sesuatu tersebut.1 Diantara klien yang sangat cocok untuk REBT adalah klien yang mengalami kecemasan pada tingkat moderat, gangguan neurosis, gangguan karakter, problem psikosomatik, gangguan makan, ketidakmampuan dalam hal hubungan interpersonal, problem perkawinan, dan lain sebagainya.  Sejalan dengan pandangannya, REBT ini menggunakan pendekatan yang komprehensif dan integratif, yang mencakup: penggunaan emotif, kognitif, dan behavioral. Ketiga aspek inilah yang hendak diubah melalui REBT.  Dalam teori ini ada tiga tahapan konseling yang dapat dilakukan: 1. Antecedent Event: Pemaparan peristiwa terdahulu yang dialami daari faktor luar.   2. Belief: Pandangan-pandangan terhadap suatu peristiwa baik rasional dan irrasional. 
                                                           1 Psikologi Konseling, Malang, 2011. hlm. 102
3. Emotional Concequence: Konsekwensi emosional sebagai akibat atau reaksi individu dalam bentuk perasaan senang atau hambatan dalam hubungannya dengan Antecednt event (peristiwa terdahulu).  Tahapan konseling REBT adalah langkah-langkah sebagai berikut:  1. Tahap Pertama, proses menunjukkan kepada klien bahwa keadaan atau persepsi yang dirasakannya adalah hal yang tidak logis. Membantu memahami bagaimana letak permasalahan sebenarnya dan menunjukkan hubungan gangguan yang dialami. 2. Tahap Kedua, Membantu klien meyakini bahwa berfikir dapat ditantang dan diubah. Klien diarahkan kepada explorasi diri untuk melakukan disputing terhadap keyakinan klien yang irrasional. 3. Tahap Ketiga, membantu klien menuju berpikir secara rasional dan mengabaikan persepsi-persepsi irrasional.     
 G. LANGKAH-LANGKAH TERAPI
Sesuai inti permasalahan yang ditemukan dan teori REBT di atas, secara umum konselor akan melakukan langkah-langkah sebagai berikut:  
1. Mengarahkan Persepsi dari berpikir Irrasional menuju rasional. Penerapan: Keadaan tidak adanya seorang ayah dan keberadaan ibu yang tidak jelas merupakan kenyataan yang tidak dapat dihindari, namun hal tersebut adalah faktor luar (Antecedent Event). Yang justru dapat meningkatkan semangat juang untuk menjadi anak yang mandiri dan pekerja keras. Hal ini terbukti klien telah mampu melaui masa emasnya dalam menjabat sebagai ketua OSIS yang sukses, walau tanpa orangtua. Serta prestasi belajar yang cukup membanggakan.  Berfikir bahwa keadaan orangtua menjadi penghalang semangat belajar adalah hal yang irrasional, sebaliknya klien harus menjadikan cambuk untuk membuktikan dirinya mampu melalui dan berprestasi melebihi mereka yang tidak mempunyai masalah keluarga.   
2. Menumbuhkan Sikap Percaya diri klien. Penerapan: Sikap klien yang tidak mampu dalam hal hubungan interpersonal  dengan teman-temannya dilatar belakangi tidak percaya diri.
Maka yang dilakukan adalah membantu klien untuk meyakini (belief) kemampuannya sebagai siswi teladan yang mempunyai bakat dan prestasi serta karakter yang penuh semangat dan pekerja keras. Serta hal inilah yang akan dibutuhkan teman-teman disekitarnya sebagai murid idola, bukan membully dan menghinanya.   
3. Memberikan Konsep Diri yang baik sesuai karakter dan potensi konseli.    Menurut Burns (1993:vi) konsep diri adalah suatu gambaran campuran dari apa yang kita pikirkan dan orang-orang lain berpendapat, mengenai diri kita, dan seperti apa diri kita yang kita inginkan. Konsep diri adalah pandangan individu mengenai siapa diri individu, dan itu bisa diperoleh lewat informasi yang diberikan lewat informasi yang diberikan orang lain pada diri individu2. Secara umum konsep diri didefinisikan sebagai keyakinan, pandangan atau penilaian seseorang, perasaan dan pemikiran individu terhadap dirinya yang meliputi kemampuan, karakter, maupun sikap yang dimiliki individu.3  Maka dalam hal ini, konselor mengarahkan kepada konseli untuk bisa memandang dirinya sebagai karakter yang kuat, penuh semangat dan pekerja keras sehingga dapat mengotrol emosinya dan mampu mengabaikan segala hal negatif dari teman-teman dan lingkungannya. Akhirnya ia mampu menjadi diri sendiri dengan memanfaatkan kekuragannya dan sebagai seseorang yang bermanfaat bagi orang lain degan segala kelebihannya.   
H. DAFTAR PUSTAKA
Psikologi Konseling, Malang, 2011 Burn R.B. (2013) Konsep Diri: Teori, Pengukuran, Perkembangan dan Perilaku, (Alih Bahasa Eddy), Jakarta: Arcan.
Rini, http:/www.e-psikologi.com/dewa/160502.htm
2 Burn R.B, Konsep Diri: Teori, Pengukuran, Perkembangan dan Perilaku, (Alih Bahasa Eddy), Jakarta: Arcan, 2013. Hlm. 117 3  (Rini, http:/www.e-psikologi.com/dewa/160502.htm), diakses 15 Oktober 2017.

Read More »

Pendekatan-Pendekatan Dalam Bimbingan Konseling

0 komentar


PENDEKATAN-PENDEKATAN
DALAM BIMBINGAN KONSELING

MAKALAH
Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah: Bimbingan Konseling
Dosen Pengampu: Dr. Sulthon M.Ag. M.Pd
B-ELK Semester Gasal










Disusun oleh:
1.      Muhammad Rois                                 (1510120041)
2.      Ahmad Hidayat                                  (1510120048)
3.      M. Imam Zarkasi                                 (1510120074)
4.      Khoerul Muarif                                   (1510120051)


 
SEKOLAH TINNGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN) KUDUS
JURUSAN TARBIYAH PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI)
TAHUN AKADEMIK 2017/2018
BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
            Dalam memenuhi tugas mata kuliah Pembelajaran Bimbingan dan Konseling, maka kami susun makalah ini dengan tema Pendekatan-pendekatan yang digunakan dalam bimbingan dan konseling untuk siswa Madrasah Ibtidaiyah ini sebaik-baiknya. Kami bermaksud agar pembaca memahami pembahasan yang akan kami sajikan ini.
            Tema tentang Pendekatan-pendekatan dalam bimbingan dan konseling ini merupakan suatu pokok bahasan yang sangat penting untuk dipahami, apalagi kita sebagai calon guru MI, sudah seharusnya sebagai seorang guru kita harus memiliki banyak keahlian dalam mengajar termasuk juga dalam memberikan bimbingan dan penyuluhan kepada siswa agar terjalinnya hubungan yang dekat saling terbuka antara guru dan siswa.
            Oleh karena itulah, secara umum pada makalah ini akan dibahas tentang berbagai macam jenis pendekatan dalam bimbingan dan konseling.
B.     Rumusan Masalah
1.      Apa saja jenis-jenis pendekatan dalam bimbingan dan konseling ?
2.      Apa saja jenis-jenis pendekatan bimbingan dan konseling yang sering di pakai di sekolah ?
C.    Tujuan Penulisan
1.      Memahami apa saja jenis-jenis pendekatan dalam bimbingan dan konseling.
2.      Memahami jenis-jenis pendekatan bimbingan dan konseling yang sering di pakai di sekolah.









BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pendekatan –Pendekatan Bimbingan Konseling
Dalam menguraikan pendekatan-pendekatan yang digunakan dalam bimbingan dan konseling. Lis Haryanti (2009) menyatakan bahwa setiap pendekatan memiliki pandangan yang berbeda tentang sifat manusia, pribadi manusia, kondisi manusia, dan lain-lain. Pandangan tentang manusia ini akan melahirkan konsep dan landasan filosofis mengenai bimbingan dan konseling.
Oleh karena itu, merujuk pada filosofis ini, Lis Hariyati, yang mengutip pandangan Gerald Corey (2005), menguraikan berbagai pendekatan dalam bimbingan dan konseling,[1] Antara lain :
1.      Pendekatan Psikoanalitik
Psikoanalisi adalah sebuah model perkembangan kepribadian, filsafat tentang sifat manusia. Aliran ini memandang bahwa struktur kejiwaan manusia sebagian besar terdiri dari alam ketaksadaran, sedangkan alam kesadarannya dapat di umpamakan puncak gunung es yang muncul di tengah laut, sebagian besar gunung es yang terbenam itu di ibaratkan alam ketaksadaran manusia.[2]
Menurut pandangan psikoanalistis, struktur kepribadian terdiri atas Id, ego, dan super ego, Id merupakan aspek biologis yang mempunyai energy yang dapat mengaktifkan ego dan super ego. Energy yang meningkat dari Id sering menimbulkan ketegangan dan rasa tak enak. Dorongan –dorongan untuk memuaskan hawa nafsu manusia bersumber dari Id. Kadang-kadang dorongan itu tak terkendali dan tidak sesuai dengan kenyataan sehingga ego terpaksa menekan dorongan-dorongan tersebut. Sedangkan super ego berperan untuk mengatur agar ego bertindak sesuai moral masyarakat. Di samping itu super ego berfungsi untuk merintangi dorongan-dorongan (implus) Id terutama dorongan seksual dan agresivitas yang bertentangan dengan moral dan agama.[3]
Ada tiga macam kecemasan yang dikenal oleh aliran ini, yaitu: (1) Kecemasan Realistis: takut akan bahaya yang datang dari luar; cemas atau takut jenis ini bersumber dari ego, (2)Kecemasan Neorutis: bersumber dari Id, khawatir kalau insting tidak dapat dikendalikan sehingga menyebabkan orang berbuat sesuatu yang dapat dihukum, (3)Kecemasan Moral, atau kecemasan kata hati: bersumber pada ego yang disebabkan oleh pertentangan moral yang sudah baik dengan perbuatan-perbuatan yang mungkin menentang norma-norma moral itu.
Konselor penganut model ini mengakui bahwa perkembangan kepribadian individu banyak dipengaruhi oleh pengalaman hidup masa kecil. Perkembangan kepribadian individu terjadi melalui respon terhadap sumber-sumber ketegangan yaitu: (1) sumber ketegangan dari proses perkembangan fisiologis, (2) frustasi, (3) konflik, dan (4) ancaman.
Tujuan-tujuan konseling yang menggunakan model psikoanalistis adalah membantu konseli: membuat hal-hal yang tak disadari menjadi disafari, membentuk kembali struktur kepribadian konseli dengan jalan mengembalikan hal yang tak disadarinya menjadi disadari, menghidupkan kembali pengalaman-pengalaman masa kanak-kanak dini dengan menembus konflik-konflik yang diresepsi, membangkitkan kesadaran intelektual.
2.      Pendekatan Eksistensial Humanistik
Berfokus pada sifat dan kondisi manusia yang mencakup kesanggupan untuk menyadari diri, kebebasan untuk menentukan nasib sendiri, kebebasan dan tanggung jawab, kecemasan sebagai suatu unsure dasar, pencarian makna yang unik pada duia yang tak bermakna, ketika sendirian dan ketika berada dalam hubungan dengan orang lain. Keterhinggaan dan kematian, dan cenderung untuk mengaktualkan diri.
Pendekatan Eksistensial Humanistik bertujuan menyajikan kondisi-kondisi untuk memaksimalkan kesadaran diri dan pertumbuhan. Menghapus penghambat-penghambat aktualisasi potensi pribadi; mengubah pertanyaan “apa” ke “bagaimana” (Gendlin:1973). Membantu klien menemukan dan menggunakan kebebasan memilih dengan memperluas kesadaran diri, membantu klien agar bebas dan bertanggung jawab atas arah kehidupannya sendiri.[4]
3.      Pendekatan Client-Centered
Pendekatan ini memandang manusia secara positif bahwa manusia memiliki suatu kecenderungan kearah berfungsi penuh. Dalam konteks hubungan konseling, klien mengalami perasaan-perasaan yang sebelumnya diingkari. Klien mengaktualkan potensi dan bergerak ke arah peningkatan kesadaran, spontanitas, kepercayaan kepada diri, dan keterarahan.[5]
Klien dianggap memiliki kemampuan untuk menjadi sadar atas masalah-masalahnya serta cara-cara mengatasinya.Kepercayaan diletakkan pada kesanggupan klien untuk mengarahkan dirinya sendiri.
Konseling yang dikembangkan berdasarkan pendekatan ini bertujuan untuk menyediakan suatu iklim yang aman dan kondusif bagi eksplorasi diri klien sehingga ia mampu menyadari penghambat-penghambat pertumbuhan dan aspek-aspek pengalaman diri yang sebelumnyan diingkari atau didistorsinya. Konselor membantu klien mampu bergerak ke arah keterbukaan pengalaman serta meningkatkan spontanitas dan perasaan hidup.
4.      Pendekatan Gestalt
Manusia dipandang memiliki kesanggupan memikul tanggung jawab pribadi dan hidup sepenuhnya sebagai pribadi yang terpadu. Konseli terdorong ke arah keseluruhan dan integrasi pemikiran perasaan serta perilaku. Pandangannya anti deterministik dalam arti individu dipandang memiliki kesanggupan untuk menyadari bagaimana pengaruh masa lampau berkaitan dengan kesulitan-kesulitan sekarang.
Proses konseling jenis ini secara umum bertujuan membantu konseli untuk memperoleh kesadaran atas pengalaman dari saat ke saat-nya. Menantang konseli agar menerima tanggung jawab atas pengambilan dukungan internal alih-alih dukungan eksternal.



5.      Pendekatan Analisis Transaksional
Manusia dipandang memiliki kemampuan memilih. Apa yang sebelumnya ditetapkan, bisa di tetapkan ulang. Meskipun manusia bisa menjadi korban dari keputusan-keputusan dini dan skenario kehidupan, aspek-aspek yang mengalahkan diri dapat diubah dengan kesadaran.
Tujuan konseling adalah membantu konseli agar bebas dari scenario, bebes dari permainan, menjadi pribadi yang otonom yang sanggup memilih posisi dan menentukan kehendak ingin menjadi apa dirinya. Oleh sebab itu, konselor selalu bertugas membatu konseli dalam menguji putusan-putusan dirinya dan membuat putusan-putusan baru berlandaskan kesadaran yang muncul dalam diri konseli.
6.      Pendekatan Tingkah Laku
Pendekatan perilaku tidak menguraikan asumsi-asumsi filosofis tertentu tentang manusia secara langsung. Setiap orang dipandang memiliki kecendrungan-kecenderungan positif dan negative yang sama. Manusia pada dasarnnya dibentuk dan ditentukan oleh lingkungannya social budayanya. Segenap perilaku manusia itu dipelajari. Dengan kata lain, Manusia dibentuk dan dikondisikan oleh pengondinisian sosial budaya. Pandangannya deterministik, dalam arti, tingkah laku dipandang sebagai hasil belajar dan pengondisian.
Tujuan umum dari konseling perilaku adalah menghapus pola-pola perilaku yang maladaptive dan membantu konseli dalam mempelajari pola-pola perilaku yang konstruktif. Konselor dituntut untuk menciptakan kondisi-kondisi baru bagi proses belajar. Tujuan-tujuan yang secara spesifik dipilih oleh konseli dan ditetapkan pada permulaan proses konseling. Asesmen terus menerus dilakukan sepanjang konseling untuk menentukan sejauh mana tujuan-tujuan terapiutik itu tercapai secara efektif. [6]




7.      Pendekatan Rasinal Emotif
Manusia dilahirkan dengan potensi untuk berpikir rasional, tetapi juga dengan kecendrungan-kecendrungan ke arah berpikir curang. Mereka cenderung untuk menjadikorban dari keyakinan-keyakinan yang irasional dan untuk menindoktrinasi dengan keyakinan-keyakinan yang irasional itu, tetapi berorientasi kognitif-tingkah laku-tindakan, dan menekankan berpikir, menilai, menganalisis, melakukan, dan memutuskan ulang modelnya adalah didaktif, direktif, tetapi dilihat sebagai proses reduksi.[7]
Konseling rasional emotif bertujuan untuk menghapus pandangan hidup konseli yang mengalahkan dirinya dan membantu konseli dalam memperolah pandangan hidup yang lebih toleran dan rasional.
Pada saat proses konseling, konselor berfungsi sebagai guru dan konseli sebagai murid. Sebagai guru, konselor senantiasa mengarahkan konseli agar mempelajari perilaku yang mengalahkan dirinya. Hubungan terapis dan konseli tidak esendial. Dalam konseling ini konseli diajak untuk memperolah pemahaman atas masalah dirinya dan kemudian harus secara aktif menjalankan pengubahan perilaku yang telah mengalahkan diri.[8]
8.      Pendekatan Realitas
Pendekatan realitas berlandaskan motivasi pertumbuhan dan anti deterministik. Menurut Dedi Supriadi (2004:213), berdasarkan adegannya, bimbingan dapat dilakukan secara individual dan kelompok (group). Bimbingan dan konseling yang dilakukan secara individual disebut bimbingan individual, dan yang dilakukan secara kelompok disebut bimbingan kelompok.
Bimbingan individual dilakukan dengan pendekatan perseorangan. Tiap orang dicoba didekati, dipahami dan ditolong secara perseorangan.[9]
Bimbingan kelompok diberikan oleh pembimbing perkelompok. Beberapa orang yang bermasalah sama, atau yang dapat memperoleh manfaat dari pembimbingan kelompok, berkumpul untuk membahas persoalannya dalam kelompok di bawah pimpinan seorang pembimbing atau terapis.[10]
Bimbingan kelompok meliputi kegiatan-kegiatan: (a) orientasi belajar, biasanya pada tahap awal siswa memasuki sekolah; (b) bimbingan kesulitan belajar, (bimbingan belajar), misalnya pengajaran remedial untuk para siswa yang prestasi belajarnya rendah; (c) bimbingan ektrakurikuler dan pemanfaatan waktu luang, (misalnya perkemahan, widyawisata, pembentukan kelompok diskusi; (d) bimbingan karier (pemberian informasi mengenai prospek karier, peluang-peluang dan hambatannya); (e) pemberian informasi mengenai berbagai hal, baik menganai hal-hal yang di dalam maupuin di luar lingkungan sekolah ( misalnya mengenaai buku-buku, majalah, kegiatan-kegiatan ilmiah, kebijaksaan baru, kurikulum, dan lain-lain).[11]
Adapun bimbingan individual atau konseling meliputi segala kegiatan tatap muka antara konselor dan lien dalam rangka mengatasi masalah klien melalui hubungan yang mendalam dan berorientasi pada pemecahan masalah klien.
Dalam membina hubungan dengan klien, konselor dapat menggunakan salah satu di antara pendekatan utama dalam konseling.
a.         Pendekatan yang berpusat pada konselor (conseulor centered counseling), disebut juga, directive counseling. Dalam pendekatan ini , konselor lebih banyak aktif daripada klien. Konselor bertindak sebagai pengarah bagi klien.
b.        Pendektaan yang berpusat kepada klien (client centered counseling), disebut juga, non-directive counseling. Dalam pendektan ini klien lebih banyak aktif, dan konselor berperan sebagai fasilitator yang mempermudah proses konseling), dan reflector (cermin) bagi klien.
c.                 Pendekatan selektif (campuran), konselor mengkombinasikan pendekatan pertama dan kedua bergantung pada situasi konseling yang sedang berlangsung.
Pendekatan yang akan digunakan oleh konselor sangan bergantung pada beberapa faktor berikut:[12]
a.       Sifat klien, ada klien yang terbuka dan tertutup. Klien yang terbuka biasanya dengan mudah mengungkapkan perasaan-perasaan dan isi hatinya. Klien demikian dapat untuk didekati dengan pendekatan pertam. Adapun klien yang tertutup, memnuntut konselor untuk lebih banyak aktif untuk menunjang klien agar mengungkapkan dirinya. Karena itu, pendekatan kedua lebih tepat digunakan.
b.        Derajat keeratan hubungan antara konselor dan klien. Pada tahap wawal konseling, klien biasanya lebih banyak diamkarena masih merasa canggung. Pada tahap ini, konselor di tuntut rapport (klien maupun konselor merasa bebas dan komunikasi menjadi enak) telah tercipta, klien biasanya lebih terbuka. Pada tahap ini, klien dan konselor sama-sama aktif. Memang dalam kenyataannya, pendekatan ketiga lebih banyak dipakai karena sifat klien yang tidak tetap.
c.         Sifat konselor, ada yang bicara dan ada yang pendiam. Meskipun faktor ini memengaruhi pendektan konseling yang dipilih oleh konselor, sesungguhnya konselorlah yang seharusnya menyesuaikan diri dengan sifat klien, bukan sebaliknya.( Anas Salahuddin : 61-64)
B.     Pendekatan Bimbingan dan Konseling di Sekolah
Pendekatan dalam bimbingan dan konseling yang sering dipakai antara lain pendekatan krisis, pendekatan remedial, pendekatan preventif, dan pendekatan perkembangan.[13]
Pendekatan-pendekatan tersebut diambil sesuai dengan karakteristik permasalahan dan ruang lingkup bimbingan konseling yang ditangani. Pendekatan-pendekatan tersebut dapat dijabarkan sebagai berikut.[14]
1.      Pendekatan krisis
Pendekatan ini menyadarkan diri pada teori-teori psikoanalisis yang berpusat padapengaruh masa lampau sebagai akar dari krisis pesserta didik saat ini. Pendekatan ini merupakan pendektan yang berorientasi dan diarahkan pada upaya untuk mengatasi krisis atau permasalahn-permasalahan yang dialami peserta didik. Oleh sebab itu, pembimbing cenderung bersifat pasif karena hanya menunggu peserta didik yang bermasalah datang, kemudian memberikan bantuan sesuai dengan masalah yang dialami.
2.      Pendekatan Remedial
Pendekatan ini mendasarkan diri pada teori-teori behavioristik yang memahami perilaku peserta didik hanya pada saat ini yang sebgian besar dipengaruhi liongkungan. Pendekatan ini mengarahkan pada  upaya memperbaiki kesulitan-kesulitan yang dialami peserta didik dalam bentuk pengoptimalisasikan kelemahan yang dimiliki peserta didik. Kegiatan layanan yang diberikan lebih fokus pada usaha pemecahan masalah peserta didik sehingga layanan hanya bagi peserta didik yang membutuhkan.
3.      Pendekatan Preventif
Pendekatan ini mendasarkan diri pada teori yang kurang jelas. Namun dmeikian, secara konseptual cukup bagus karena bergerak atas dasar upaya untuk mengantisipasi munculnya masalah-masalah umum individu dan berusaha mencegahnya agar jangan terjadi dan menimpa peserta didik. Oleh sebab itu, proses bimbingan dan konseling lebih fokus pada bagaimana guru pembimbing mengajarkan pengetahuan dan keterampilannya untuk mencegah munculnya permasalaha.
4.      Pendekatan Perkembangan
Menurut Syamsu Yusuf dan A. Juntika Nurihsan, pola pembimbingan dan konselinng perkembangan memiliki kegiatan yang lebih kompleks dan komprehensif dengan visi edukatif , pengembanagan, dan menyeluruh (outreach). Edukatif  artinya menekankan pada pencegahan dan pengembangan. Pengembangan artinya tujuan yang ingin di capai adalah perkembangan peserta didik secara optimal sesuai dengan tugas-tugas perkembangan melalui aktivitas dan rekayasa lingkungan. Outreach  artinya layanan bimbingan dan konseling diberikan kepada seluruh peserta didik, baik yang bermasalah maupun tidak.
Mengacu pada prinsip tersebut, kegiatan bimbingan dan konseling dilakukan dengan berbagai ragam dimensi masalah, target intervensi, setting, metode, lamanya proses, dan sebagainya. Artinya, kegiatan layanan yang diberikan cukup luas, beragam,dan kompleks yang tidak terlepas dari proses pendidikan dan pembelajaran itu sendiri. Oleh sebab itu, salah satu tekhnik yang digunakan dalam pendekatan perkembangan antara lain proses pembelajaran dan konseling.





























BAB III
PENUTUP
A.    Simpulan.
1.      Jenis-jenis pendekatan dalam bimbingan konseling secara umum ada beberapa macam, diantaranya :
a.    Pendekatan Psikoanalititik
b.    Pendekatan Eksestensial-Humanistik
c.    Pendekatan Client-Centered
d.   Pendekatan Gestalt
e.    Pendekatan Analisis Transaksional
f.     Pendekatan Tingkah Laku
g.    Pendekatan Rasional Emotif
h.    Pendekatan Realitas
2.      Jenis-jenis pendekatan dalam bimbingan konseling yang sering dilakukan di sekolah, diantaranya adalah :
a.    Pendekatan Krisis
b.    Pendekatan Remedial
c.    Pendekatan Preventif
d.   Pendekatan Perkembangan
B.     Kritik dan Saran
            Kami  merasa bahwa pada makalah ini banyak sekali kekurangan, oleh karena kurangnya pengetahuan pada saat pembuatan makalah, kami sebagai penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun kepada pembaca agar kami dapat membuat makalah yang lebih baik lagi.










DAFTAR PUSTAKA

Anas Salahudin, M.Pd. Bimbingan dan Konseling (Bandung. Pustaka Setia: 2010)
Muhammad irham & Novan Ardy Wiyani, bimbingan dan konseling , (yogyakarta: Ar-ruzz Media, 2014)
Syarifuddin Dahlan. Bimbingan dan Konseling di Sekolah. (Yogyakarta: Graha Ilmu: 2014)
Slameto. Bimbingan di Sekolah . (Jakarta. Bina Aksara: 1988)
Syamsu Yusuf & A. Juntika Nurihsan, Landasan bimbingan dan konseling, (Bandung: Remaja Rosdakarya dan UPI, 2011)
Zainal Aqib, Bimbingan & Konselling Di Sekolah, (Bandung: Rama Widya, 2012)








[1] Anas Salahudin. Bimbingan dan Konseling (Bandung. Pustaka Setia: 2010).  Hlm. 61.
[2] Syarifuddin Dahlan. Bimbingan dan Konseling di Sekolah. (Yogyakarta: Graha Ilmu: 2014) hlm. 48.
[3] Ibid…hlm. 49.
[4] Ibid...hlm. 52.
[5] Anas Salahudin. Op Cit…hlm.  61.
[6] Syarifuddin Dahlan. Op Cit...hlm.  57.
[7] Anas Salahudin. Op Cit…hlm. 62.
[8] Syarifuddin Dahlan. Op Cit...hlm. 57-61
[9] Slameto. Bimbingan di Sekolah . (Jakarta. Bina Aksara: 1988). hlm. 35.
[10] Ibid…hlm. 35.
[11] Anas Salahudin . Op Cit…hlm. 62.
[12] Zainal Aqib, Bimbingan & Konselling Di Sekolah, (Bandung: Rama Widya, 2012) hlm. 46.
[13] Syamsu Yusuf & A. Juntika Nurihsan, Landasan bimbingan dan konseling (Bandung: Remaja Rosdakarya dan UPI, 2011). hlm. 82.
[14] Muhammad Irham & Novan Ardy Wiyani, Bimbingan dan Konseling , (yogyakarta: Ar-ruzz Media, 2014) .hlm. 112.

Read More »